oleh

Mantan Staf Konsulat Inggris di Hong Kong Ngaku Disiksa Intelijen China

Jakarta, Radar Pagi – Simon Cheng, seorang mantan staf Konsulat Inggris di Hong Kong, mengaku ditangkap dan disiksa oleh intelijen China yang ingin informasi apakah Inggris terlibat di balik gelombang unjuk rasa yang melanda Hong Kong dalam lima bulan terakhir.

Dilansir Associated Press, Kamis (21/11/2019), pengakuan Simon itu disampaikan secara tertulis melalui akun Facebook dan wawancara dengan stasiun televisi.

Sebagai staf bidang perdagangan dan penanaman modal, tugas Simon adalah menarik pemodal China untuk menanamkan investasi di Skotlandia. Maka dari itu dia kerap bolak-balik ke daratan China.

Pada suatu hari, aparat China menangkap Simon di kota Shenzhen sepulang dari Inggris. Dia lantas mengaku disekap di suatu tempat.

Simon mengatakan, selama 15 hari disekap dia disiksa dengan berbagai macam cara. Dia dibebaskan pada Agustus lalu.

“Mata saya ditutup selama interogasi. Saya selalu berkeringat dan sangat lelah, pusing hingga sulit bernapas,” kata Simon.

Simon mengatakan selama ditahan itu kaki dan tangannya diikat oleh agen-agen China berpakaian bebas dan dipukuli. Jam tidurnya juga segaja dibuat kacau.

Simon juga mengatakan selalu dibawa pergi setiap hari dari tahanan ke lokasi interogasi, dengan diborgol dan mata ditutup. Jika melamun ketika ditanyai, dia mengatakan akan dihukum dengan cara lututnya dipukul dan dipaksa menyanyikan lagu kebangsaan China.

“Seorang interogator mendesak saya untuk mengungkap peran Inggris dalam demonstrasi Hong Kong. Dia mengaku dari badan intelijen China. Dia lalu mengatakan ‘tidak ada hak asasi di tempat ini’,” kata Simon.

Dalam pengakuan Simon, dia disiksa supaya mau mengakui Inggris turut terlibat dalam gejolak di Hong Kong, dengan cara menyumbangkan uang dan barang serta membayar jaminan bagi para demonstran yang berasal dari daratan China. (maria)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed