oleh

APPSINDO Kritik Rencana Bulog Musnahkan 20 Ribu Ton Beras

-Ekonomi-136 views

Jakarta, Radar Pagi – Ketua Umum Aliansi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSINDO), Drs. H. Hasan Basri SH.MH, mengkritik rencana Badan Urusan Logistik (Bulog) yang hendak memusnahkan 20 ribu ton beras setelah melewati batas waktu penyimpanan.

“Kalau memang masih bisa dimanfaatkan, kenapa harus dimusnahkan?” kata Hasan Basri di kantor APPSINDO, Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (4/12/2019) pagi.

Ke-20 ribu ton beras itu merupakan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang selama ini disimpan di gudang milik Perum Bulog, dan harus di-disposal atau dibuang karena mengalami penurunan mutu.

Sebelumnya, Direktur Operasional dan Pelayanan Publik, Badan Urusan Logistik (Bulog), Tri Wahyudi Saleh mengatakan, disposal itu berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 38 tahun 2018 tentang pengelolaan cadangan beras pemerintah.

“Kami monitor terus dan setelah dilihat di bawah 100.000 ton, dan yang mau dimusnahkan 20.000 ton dan itu usianya lebih dari setahun,” kata Tri, Jumat (29/11/2019) pekan kemarin.

Menanggapi hal itu, Hasan Basri memaklumi bila beras yang hendak dimusnahkan benar-benar sudah rusak, namun bila masih layak dikonsumsi, dirinya sangat menyayangkan.

“Karena masih banyak warga kita hidup di bawah garis kemiskinan. Bila beras itu masih layak dikonsumsi, bukankah sebaiknya disumbangkan saja untuk keluarga pra sejahtera, khususnya yang hidup di daerah pedalaman,” katanya.

Hasan tidak sepenuhnya yakin bila ke-20 ribu ton beras itu menjadi tidak bisa dimakan hanya karena melewati batas waktu penyimpanan.

“Saya yakin sebagian besar masih layak konsumsi, meski mutunya sudah menurun. Untuk itu, bisa disortir dulu kelayakannya, dipilah-pilah mana yang masih bagus, sebab jangan pula beras berkutu yang dibagikan ke masyarakat,” katanya.

Dalam membagikan beras tersebut, Hasan menyarankan Bulog untuk bekerjasama dengan Kementerian Sosial.

“Serahkan saja berasnya ke Kementerian Sosial. Biar mereka yang atur distribusinya. Tapi kalau mereka menolak atau Bulog mau menangani sendiri, ya silahkan,” katanya.

Menghibahkan beras yang masih layak untuk diolah, menurut Hasan Basri, jauh lebih bermanfaat ketimbang memusnahkannya. Apalagi mengingat biaya pemusnahan beras pun cukup besar.

“Mendistribusikan beras tersebut ke masyarakat yang membutuhkan memerlukan ongkos, tetapi memusnahkannya juga memakan biaya. Jadi kalau ujung-ujungnya tetap memerlukan uang, daripada dimusnahkan lebih baik dibagikan kepada yang membutuhkan,” ujarnya.

Di masa mendatang, Hasan menyarankan Bulog untuk menyimpan gabah lebih banyak ketimbang beras, sebab gabah dapat disimpan lebih lama. Hal itu bisa memperkecil resiko disposal beras yang terkesan mubazir.

“Sebaiknya simpan dalam bentuk gabah ketimbang butiran beras yang cepat rusak,” katanya.

Hasan juga mengimbau Bulog memperbaiki fasilitas penyimpanan agar gabah dan beras bisa lebih awet. Selain itu, Bulog perlu memperbaiki teknologi pengolahan pangannya.

“Standar gudang penyimpanan perlu diperbaiki dan teknologi pengolahan pangannya harus dipercanggih. Beras kan tidak melulu harus diolah menjadi nasi. Begitu masa penyimpanan akan berakhir, Bulog bisa langsung mengolah beras menjadi tepung atau produk lainnya yang berasal dari beras,” tandas Hasan. (yon)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed