oleh

Kronologi Kejadian Petugas Diduga Arogan Main Penggal Induk Anjing yang Masih Menyusui

-Anehsiana-238 views

Manggarai, Radar Pagi – Foto empat ekor anak anjing menyusui pada induknya yang telah mati dan tergeletak tanpa kepala setelah dibunuh dan dipenggal petugas gabungan Pemda Manggarai Timur, NTT, viral di dunia maya. Petugas diduga berperilaku arogan karena menuduh anjing tersebut rabies cuma gara-gara mengonggong saat mereka datang.

Foto-foto yang di-posting pada malam 4 Desember 2019 itu langsung diserbu beragam komentar netizen. Banyak sekali kecaman dan menuntut tim pengendali HPR dan Pemerintah Daerah Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur untuk minta maaf atas kesadisan itu.

“Buktikan anjing saya rabies, ini anjing saya sering suntik (vaksin antirabies) dan bertahun-tahun tidak pernah gigit orang. Kenapa karena menggonggong lantas disebut rabies,” ujar Kresentina, selaku pemilik anjing yang dibunuh petugas.

Kresentiana menuturkan kronologi kejadiannya. Sebelum anjingnya dibunuh, ia menerima surat edaran bahwa pada 5 Desember 2019, petugas akan melakukan penertiban HPR dan melakukan vaksinasi di lingkungannya, yakni Dusun Tanggo, Kelurahan Kota Ndora.

Namun ternyata petugas datang lebih cepat sehari sebelum jadwal penertiban. Saat petugas datang Kresentina sedang mengajar. Ibu satu anak ini merupakan seorang guru di SD Leke Kecamatan Borong. Sementara Marselinus, suami Kresentina, sedang bekerja sebagai tukang bangunan. Saat itu, di rumah ada Eti, adik Kresentina.

Dari Eti ia mendapat kronologi kejadian, termasuk aksi arogan petugas yang merangsek masuk ke dalam rumahnya.

“Ceritanya mereka ini tim gabungan, ada Pol PP (Polisi Pamong Praja), ada tentara, ada juga tim dari Dinas Peternakan. Karena saya ada piara anjing tentu siapa saja tamu yang datang pasti digonggong. Saya ada tiga ekor anjing, dua jantan dan satu betina yang sudah mati ini. Rumah saya agak jauh dari permukiman. Karena digonggong petugas ini marah dan mengejar anjing saya, kebetulan yang induk ini lari ke dalam dapur, mereka kejar dan dipukul sampai mati di dapur,” katanya.

Kresentiana menuturkan, para petugas yang datang menuduh anjing yang tidak diikat dan galak merupakan anjing rabies. Padahal anjingnya sudah disuntik vaksin rabies.

“Pas saya pulang lihat anjing saya sudah mati tanpa kepala, saya langsung teriak dan menangis dan tambah sedih saya lihat anak-anak anjing masih menyusui di induk mereka yang telah mati,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Yang saya tidak terima pak ya, petugas itu seolah pemilik rumah, adik saya Eti disuruh keluar sambil gendong anak saya, supaya mereka leluasa tutup semua pintu rumah, pintu dapur bikin macam rumah sendiri dan pukul anjing saya sampai mati, lalu mereka potong lehernya katanya untuk diperiksa di lab (laboratorium) rabies”.

Kasubag Humas Pemda Manggarai Timur,  Agus Supratman ketika dihubungi menjelaskan, penertiban Hewan Penular Rabies (HPR) berdasarkan Peraturan Daerah (Perda), Kabupaten Manggarai Timur  Nomor 6 Tahun 2010 tentang Penertiban Penanggulangan dan Pemberantasan Hewan Penular Rabies (HPR).

“Perda ini sudah lama diterbitkan dan juga sudah cukup lama diketahui masyarakat. Hakikat perda ini untuk mengantisipasi terjadinya status Kejadian Luar Biasa (KLB) penularan HPR di Manggarai Timur, sebab saat ini gigitan HPR di Matim jumlahnya cukup tinggi. Demi menjamin keselamatan nyawa manusia dan mengurangi korban yang berjatuhan akibat kena tular rabies, petugas kontinyu melakukan eliminasi atau pembasmian HPR,” ujarnya.

Sebelum melakukan eliminasi, menurut Agus, telah melewati beberapa tahap. Salah satunya penyampaian lisan dan tulisan kepada warga melalui pihak kecamatan yang diteruskan ke kelurahan. (Jo Kenaru/viva/red)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

News Feed