oleh

Anies Bilang Kata-kata Itu Penting, Publik: Nggak Cocok Jadi Presiden

-Nasional-297 views

Jakarta, Radar Pagi – Pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menekankan pentingnya narasi dalam menjalankan sebuah aksi mengundang reaksi publik. Pro kontra kemudian bermunculan di tengah masyarat, termasuk tokoh-tokoh dan pengamat politik, terkait omongan gubernur yang terkenal lihai bersilat lidah itu.

Ketua DPP NasDem Irma Suryani Chaniago balik menyindir Anies dengan menyebut bahwa akademisi tak cocok menjadi kepala daerah, apalagi presiden. Anies memang pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadhina.

“Begini, itulah bedanya pendidik dan tukang kayu atau pengusaha. Pendidik bicara teori, sedangkan tukang kayu action (kerja). Makanya banyak ilmuwan atau akademisi nggak cocok jadi politisi atau jadi pimpinan wilayah, daerah, apa lagi presiden,” kata Irma kepada wartawan, Sabtu (14/12/2019) kemarin.

Menurut Irma, akademisi harus lebih dulu membuat narasi. Sementara seorang pemimpin dituntut bekerja cepat. “Karena rata-rata mereka bicara teori dan juga mengadvokasi, sehingga ketika diminta jadi pemimpin atau jadi pimpinan kurang cocok, karena akan jadi lamban. Sedangkan menjadi pimpinan atau pemimpin selain harus cepat, juga harus berani,” katanya.

Terkait narasi alias ngoceh yang ditata secara baik dan benar, ucapan lebih menohok datang dari kubu Golkar. Partai Beringin itu menegaskan bahwa seorang pemimpin harus menepati janji yang pernah diucapkan.

“Ketika sudah jadi pemimpin, maka kewajibannya adalah bagaimana memenuhi janjinya untuk mewujudkannya dengan kerja, bukan dengan kata-kata lagi,” kata politikus Golkar Ace Hasan Syadzily kepada wartawan, Sabtu (14/12/2019).

“Misalnya, ketika kampanye dulu pernah berjanji untuk tidak melakukan penggusuran, ya kerjakan saja bahwa tidak ada penggusuran, bukan dengan merangkai kata bahwa kebijakan itu ‘relokasi’. Atau dulu, misalnya, berjanji tidak ada reklamasi (ternyata ada reklamasi, tapi dengan nama lain),” imbuh dia.

Ace mengatakan seorang pemimpin tidak hanya cukup memiliki kemampuan menyusun kebijakan. Dia menekankan bahwa pemimpin juga harus bisa mengimplementasikan kebijakan yang ditetapkan.

“Seorang pemimpin itu tak cukup hanya memiliki kemampuan untuk menyusun kebijakan, tapi mampu mengimplementasikan rencana kata-kata yang sudah menjadi kebijakan itu yang dilaksanakan oleh aparat di bawah yang dipimpinnya,” sebut Ace.

Namun Partai Keadilan Sejahtera (PKS) setuju dengan pemikiran Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menyebut suatu gagasan harus dinarasikan dengan kuat, baru setelah itu diimplementasikan dengan kerja. PKS menilai pihak yang hanya mementingkan kerja bukanlah pemimpin.

“Betul (gagasan harus dinarasikan baru dikerjakan). Kerja itu di ujung. Di awal, kerja itu harus berangkat dan berbasis dari filosofi, visi dan misi, sampai dengan ujungnya program aksi, kerja dan evaluasi kerja,” kata Ketua DPP PKS Al Muzzammil Yusuf kepada wartawan, Sabtu (14/12/2019).

Muzzammil meyakini pihak yang hanya mementingkan kerja, akan menjadi pekerja saja. Menurut anggota DPR RI itu, pekerja biasanya hanya mengerjakan apa yang menjadi gagasan orang lain.

“Kalau tidak integral, yang dipentingkan hanya kerja saja, maka ia menjadi pekerja bukan pemimpin. Kalau pekerja, biasanya mengerjakan order pekerjaan orang lain dengan filosofi, visi-misi orang lain tersebut,” jelasnya.

Anda sendiri percaya yang mana? (yogie)

News Feed