oleh

Retribusi Jalan di Desa Wonorejo Jadi Polemik

-Hukum-152 views

Kab. Malang, Radar Lagi – Polemik terkait pungutan retribusi jalan di Desa Wonorejo Kecamatan Lawang Kabupaten Malang, menjadi pergunjingan jagat maya. Retribusi  tersebut juga menarik perhatian Aliansi Masyarakat Anti Korupsi (AMATI).

Koordinator AMATI Romadhony mengatakan pihaknya masih mendalami persoalan ini, apakah retribusi tersebut sudah ada persetujuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang dan apakah Pemkab sudah  mengkaji Peraturan Desa (Perdes) yang digunakan oknum sebagai dasar menerbitkan retribusi tambahan di Wonorejo.

“Jadi, kita tunggu perkembangan apakah sudah ada  kajian terkait retribusi tersebut, kita akan tunggu aja perkembangannya, bisa kita lihat kok,” kata Dony, Kamis (18/12/2019)

Dikatakannya, Perdes merupakan kewenangan desa. Saat menyusun Perdes, desa melibatkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD). “Namun jika ada pungutan desa, seharusnya ada rekomendasi dari dinas terkait,” kata Dony

Rekomendasinya, yaitu adanya evaluasi terkait besaran pungutan sesuai regulasi. Namun, Dony tidak menjelaskan rinci terkait hal tersebut. “Ya, pungutan itu boleh, asal sesuai regulasi,” ungkap Dony.

Terkait Perdes yang digunakan oknum untuk menarik retribusi di Desa Wonorejo, pihaknya belum bisa memastikan keabsahannya. “Kami belum mencermati (Perdes),” kata Dony.

Tambah Dony, pihaknya akan mengkomunikasikan masalah ini ke Inspektorat.

“Intinya, masyarakat punya hak yang sama di Negara ini,” pungkasnya.

Di tempat terpisah, Sekretaris Desa  Wonorejo Mustakim menjelaskan retribusi tersebut sudah sesuai Perbup, dan sudah ada Perdesnya. Tujuan retribusi untuk mendapatkan PAD.

“Ini sudah sesuai dengan Perbup kok, pada dasarnya apa yang kita lakukan ini untuk membangun Desa,” terangnya.

Dengan viralnya kasus tersebut di media sosial, akan membuat oknum jera. Masyarakat yang masuk ke kawasan Wonorejo akan dicegat oleh oknum tukang parkir.

“Saya berharap agar persoalan ini dapat segera diselesaikan. Kasihan yang tidak tahu. Saya cukup sekali saja ‘kena’. Setelah itu, saya kapok ke sana (Wonorejo),” kata salah seorang netizan yang menjadi korban pungutan retribusi tersebut. (Med)

News Feed