oleh

Reses Perdana, Ahmad Wanedi Bahas Beragam Persoalan di Kota Malang

-NUSANTARA-161 views

Malang, Radar Pagi – Perencanaan pembangunan gedung Malang Creatif Centere (MCC) menimbulkan kontroversi belakangan ini. Hal itu tak luput dari pengamatan Ahmad Wanedi, politisi PDIP sekaligus Ketua Dewan Komisi D DPRD Kota Malang.

Menurut Ahmad Wanedi, soal pembangunan Malang Creative Centere (MCC), bisa jadi nantinya akan didiskusikan di kantor dewan.

“Nantinya, kami bersama anggota dewan yang lain tetap akan mengawal serta mengawasi proses pelaksanaan pembangunannya,” kata Ahmad Wanendi saat melakukan reses perdananya yang bertajuk ‘e-POKIR (eletronik Pokok Pokok Pikiran)’ di sebuah hotel di Malang, Jum’at (20/12/2019).

Selain membahas pembangunan MCC, Wanedi juga menyampaikan beberapa hal lain, misalnya pentingnya model reses bagi semua anggota dewan yang perlu melibatkan sentuhan para pelaku seni agar tidak menjenuhkan dan sekedar gugur kewajiban. Mengingat dana reses juga menggunakan uang rakyat.

“Agar tidak menjenuhkan dan dialog bisa lebih gayeng, maka perlunya inovasi dalam setiap masa reses para anggota dewan, dengan sekaligus melibatkan para pelaku seni dan budayawan. Agar tidak terkesan formal gugur kewajiban,” tegas Wanedi.

Terkait persoalan Karang Taruna di Kota Malang yang tidak dilibatkan oleh Pemkot,  Wanedi berjanji akan membahasnya di ruang dewan, termasuk legalitas formalnya.

Dalam reses ini juga dibahas persoalan Karateka asal Malang bernama Sofie yang sempat lepas dari perhatian Pemkot Malang, termasuk pembiayaan saat akan berangkat membawa nama Indonesia di kejuaraan internasional. Beruntung, berkat empati dan kegigihan dari salah satu elemen komunitas, ada pihak swasta yang mensponsori keberangkatan atlet tersebut.

Tidak hanya itu, dalam temu muka bersama masyarakat Dapil Sukun, juga dibahas ruang Museum Musik Indonesia (MMI) di gedung Gajayana yang terkesan diabaikan oleh Pemkot Malang, dimana kondisi ruang MMI pada bagian atapnya bocor merata saat hujan. Sehingga untuk mengantisipasi agar barang-barang bersejarah seperti piringan hitam tidak rusak, barang bersejarah yang ada di dalam ruangan tersebut diamankan.

Hal itu disampaikan oleh salah satu elemen komunitas Grup WhatsUp pada Ahmad Wanendi yang turut dihadiri Ratna, perwakilan dari MMI.

Ada lagi persoalan yang diutarakan Rendi dari lintas budaya yang menilai Pasar Bareng lokasinya kurang representatif dijadikan tempat untuk melakukan kegiatan berkesenian dan ajang ekspresi kebudayaan.

“Sehingga perlu oleh Dewan dibahas dan didelegasikan ke pihak Pemkot Malang, agar segera dicarikan solusi (tempat lain yang memadai),” ujar Rendi.

Pada acara reses pertamanya Ahmad Wanedi yang berjalan lancar tersebut, dihadiri oleh masyarakat Dapil Sukun, perwakilan Muspika, PAC dan DPC PDI Perjuangan serta Camat Sukun, dan undangan lainnya. (Med)

News Feed