oleh

Mantan Dirut Garuda Didakwa Cuci Uang Rp 87,4 Miliar

-Hukum-186 views

Jakarta, Radar Pagi – Mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar turut didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU) sekitar Rp87,4 miliar. Perbuatan itu diduga dilakukan bersama-sama dengan Mantan Direktur Utama PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Soetikno Soedarjo.

Jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Heradian Salipi mengatakan uang hasil TPPU berasal dari imbalan atas pengadaan pesawat dan total care program (TCP), mesin Rolls-Royce (RR) Trent 700. Uang tersebut diyakini merupakan hasil tindak pidana korupsi yang berkaitan dengan jabatan terdakwa Emirsyah Satar selaku Dirut PT Garuda Indonesia.

“Selanjutnya dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaannya yang diketahui atau patut diduga berasal dari tindak pidana korupsi,” kata Jaksa Heradian seperti dilansir Antara, Senin, 30 Desember 2019.

Emirsyah Satar melakukan rangkaian perbuatan sebagai berikut. Pertama, mentransfer uang SGD480 ribu menggunakan rekening Woollake International di UBS atas nama Mia Badilla Suhodo (mertua Emirsyah Satar) untuk ditransfer ke rekening BCA atas nama Sandrina Abubakar (istri Emirsyah) dan rekening Commonwealth Bank of Australia atas nama Eghadana Rasyid Satar (anak Emirsyah).

Kedua, dengan cara menitip dana sejumlah USD1,45 juta (sekitar Rp20,3 miliar) ke rekening Soektino Soedarjo di Standard Chartered Bank. Ketiga, membayar pelunasan utang kredit di UOB Indonesia berdasarkan Akta Perjanjian Kredit Nomor 174 senilai USD841 ribu (sekitar Rp11.7 miliar).

Keempat, membayar biaya renovasi rumah di blok SK No 7-8 Pondok Pinang Kebayoran Lama, Jakarta Selatan senilai Rp639 juta. Kelima, membayar apartemen unit 307 di 05 Kilda Road, Melbourne Australia senilai AUD805 ribu (sekitar Rp7,8 miliar).

Keenam, menempatkan rumah di Jalan Rubi Blok G No 46 Kebayoran Lama atas nama Sandirna Abubakar untuk jaminan kredit Bank UOB Indonesia sebesar 840 ribu dolar AS (sekitar Rp11.6 miliar). Ketujuh, mengalihkan kepemilikan 1 unit apartemen yang terletak di 48 Marine Parade Road #09-09 Silversea, Singapore, 449306 kepada Innospace Invesment Holding senilai SGD2.9 juta (sekitar Rp30,2 miliar).

Emirsyah didakwa melanggar Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Sebelumnya, jaksa mendakwa Emirsyah menerima suap sebesar Rp46,3 miliar. Uang rasuah tersebut berasal dari pihak Rolls-Royce Plc, Airbus, Avions de Transport Regional (ATR) melalui PT Ardyaparamita Ayuprakarsa milik Soetikno Soedarjo, dan Bombardier Kanada.

Emrisyah menerima suap dengan mata uang beragam. Rinciannya yakni melalui mata uang tersebut, yakni Rp5.8 miliar; USD884.200 atau setara Rp12,3 miliar; EUR1.020.975 atau setara Rp 15.9 miliar; dan SGD1,1 juta atau setara Rp12.2 miliar.

Suap diberikan karena Emirsyah selaku Dirut Garuda memilih pesawat dari tiga pabrikan dan mesin pesawat dari Rolls Royce. Perbuatan rasuah ini dilakukan Emirsyah dalam kurun waktu 2009 hingga 2014.

Suap terkait Total Care Program (TCP) mesin Rolls Royce (RR) Trent 700, pengadaan pesawat Airbus A330-300/200, pengadaan pesawat Airbus A320 untuk PT Citilink Indonesia, pesawat Bombardier CRJ1.000, dan pengadaan pesawat ATR 72-600. (net)

 

 

News Feed