oleh

Ribuan Warga Perancis Demo Kenang Guru yang Dipenggal Karena Tunjukkan Kartun Nabi

Paris, Radar Pagi – Ribuan orang hadir dalam demo besar-besaran di Place de la Republique, Paris, Perancis, pada hari Minggu kemarin waktu setempat untuk mengenang guru bernama Samuel Paty yang dipenggal muridnya sendiri setelah memperlihatkan kartun Nabi Muhammad dalam pelajaran bertema kebebasan berekspresi di kelasnya.

Paty, 48, seorang guru dari kota Conflans-Sainte-Honorine, dibunuh oleh Abdulak Abuezidovich (18) secara brutal dan akhirnya dipenggal ketika dalam perjalanan pulang pada pekan lalu. Pelaku merupakan pria etnis Chechnya, Rusia yang datang ke Perancis bersama keluarganya sebagai pengungsi saat berusia 6 tahun.

Replika kartun yang ditunjukkan Paty di kelasnya merupakan karikatur terkenal yang diterbitkan oleh majalah satire Prancis Charlie Hebdo, yang menjadi sasaran serangan teror pada tahun 2015, di mana 12 orang tewas. Jadi, karikatur tersebut bukan Paty yang buat, dia hanya sedang menunjukkan contoh karya ekepresi yang ketika dipublikasikan lalu mendapat penentangan. Berbeda dari pembunuhan di tahun 2015, kali ini warga Perancis seolah tidak bisa lagi mentolerir negerinya dijadikan ajang kegiatan teror mengatasnamakan agama.

Pejabat pemerintah, termasuk Perdana Menteri (PM) Jean Castex, serta Wali Kota Paris; Anne Hidalgo dan kepala wilayah Ile-de-France; Valerie Pecresse, ikut menghadiri perkumpulan massa di Place de la Republique. Warga Perancis marah karena pelaku dianggap tidak tahu berterima kasih setelah sekian lama mencicipi alam kedamaian di negeri tersebut. Mereka bertekad tidak takut terhadap ancaman teroris.

“Anda tidak membuat kami takut. Kami tidak takut. Anda tidak akan memecah belah kami. Kami adalah Prancis!,” tulis Castex di Twitter, dengan mengunggah video yang menunjukkan demonstrasi tersebut, seperti dikutip dari Russia Today, Senin (19/10/2020).

Orang-orang yang berkumpul di alun-alun mengheningkan cipta selama satu menit untuk mengenang Paty, yang diakhiri dengan tepuk tangan. Di satu titik, massa yang hampir memenuhi seluruh lapangan terlihat menyanyikan lagu kebangsaan Prancis, “La Marseillaise”.

Para demonstran memegang plakat bertuliskan foto guru yang dibunuh, serta berbagai slogan termasuk “Je suis Samuel (Saya Samuel)”, “Je suis enseignant (Saya seorang guru)” dan “Je suis Charlie (Saya Charlie).

Tanda pagar (tagar) #JeSuisSamuel, #jesuisprof dan #JeSuisEnseignant juga menjadi trending topic di Twitter. Demonstrasi peringatan itu diadakan di banyak kota lain di seluruh Prancis, termasuk Orleans, Toulouse, Lyon, dan Grenoble, di mana banyak orang berkumpul di dekat kantor wali kota.

Pelaku yang masih ABG sendiri ditembak mati oleh polisi setelah pengejaran singkat. Menurut unggahan di akun media sosial yang sekarang sudah dihapus yang diduga milik pelaku, serangan itu sebagai pembalasan atas apa yang disebutnya penghinaan terhadap Islam.

Kartun yang ditunjukkan Paty di kelas sebelumnya juga memicu gelombang kemarahan di antara beberapa orangtua siswa Muslim, dengan salah satu dari mereka bahkan meluncurkan kampanye online untuk menuntut agar guru tersebut dipecat. Keluhan tersebut diperkuat oleh masjid setempat, yang membagikan video tersebut kepada 60.000 follower di Facebook. Namun setelah ribuan warga Perancis marah pasca kematian Paty dan menunjukkan ketidaksukaan mereka, beberapa pemuka muslim malah balik badan meminta maaf atas kelakuan pelaku.

Polisi telah menahan 11 orang terkait kasus tersebut, termasuk empat kerabat penyerang, serta orang tua yang melancarkan kampanye melawan guru tersebut, dan beberapa kenalannya. (jar)

News Feed