oleh

Derita Dadang Pengidap Kanker Nasofaring

-Kesehatan-492 views

Purwokerto, Radar Pagi – Malang nian nasib Dadang Sumardi (53). Warga Desa Batukaras RT 13 RW 10, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat ini nasibnya ibarat pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga”. Pasca ditinggal mati istri dan anak, pria yang pernah bekerja sebagai penjaga vila pribadi itu kini tergolek tak berdaya setelah tubuhnya digerogoti kanker nasofaring.

Penyakit Dadang mulai terasa sekitar dua tahun silam usai istrinya meninggal dunia terkena serangan jantung gara-gara kaget mendengar suara petasan. Dadang yang terpukul dengan kepergian sang istri, menjadi sering pusing. Namun karena mengira sakit kepala biasa, dia hanya minum obat pereda rasa nyeri yang dijual bebas di warung.

Beberapa bulan setelah kematian istri, Dadang menerima pukulan kedua saat anak lelakinya, Kaka Handika (12) divonis menderita kanker darah. Bocah kelas 6 di SD Batukaras 2 itu pun akhirnya dirawat di RSUD Pandega Pangandaran selama 18 hari, kemudian dirujuk ke RSUP dr. Sardjito di Yogyakarta dan rawat inap di sana hampir 8 bulan.

Selama menjaga putranya itu (baca beritanya: https://radarpagi.co.id/2020/09/03/bocah-penderita-kanker-darah-butuh-bantuan-dermawan/ ) , penyakit Dadang bertambah parah. Bukan cuma sakit kepala, tapi sakit di daerah hidung hingga mimisan dan demam pun sering dia alami. Namun Dadang tak menghiraukan kondisinya lantaran saat itu perhatiannya tercurah untuk merawat Kaka.

“Pak Dadang saat itu cuma berobat ke dokter biasa karena dia mikirin anaknya terus, sakitnya dia sendiri nggak dia pikirin,” kata Dede Ela, kerabat yang menemani Dadang selama dirawat di RS.

Menurut Dede, ketika rasa sakit semakin tak tertahankan, barulah Dadang berobat ke dokter umum dan kemudian ke dokter THT. Dokter kala itu memperkirakan ada tumor dan meminta Dadang untuk terus berobat, tetapi permintaan dokter itu tidak dipenuhi, karena Dadang lebih memilih untuk terus mendukung anaknya, itu juga sudah kesulitan biaya.

Ketika sang putra meninggal, kondisi Dadang langsung ngedrop hingga dirawat di rumah sakit. Dadang pun kesulitan membayar biaya perawatan lantaran BPJS-nya sudah lama tidak aktif dan ada tunggakan Rp1,3 juta. Beruntung, ada dermawan yang membantu melunasi tunggakan hingga perawatan yang bisa dilakukan.

Sayangnya, kondisi Dadang bertambah parah sehingga akhirnya dirujuk ke RS Pandega, Pangandaran. Tetapi di rumah sakit itu tidak ada dokter THT. Dadang diarahkan ke bagian Poli Bedah untuk dioperasi lantaran ditemukan benjolan di pundak dan leher. Usai operasi, Dadang dibolehkan pulang. “Tapi pas beres beres mau pulang, administrasi rumah sakit bilang ada denda Rp2,7 juta yang dibayar karena BPJS-nya pernah nunggak, sudah ngutang lagi di sana-sini,” tutur Dede Ela.

Dadang ketika masih dirawat di RSU Dadi Keluarga Purwokerto

Seusai operasi pengangkatan benjolan, kondisi Dadang tidak juga membaik. Dia pun bolak-balik ke rumah sakit dengan beragam diagnosis dari beberapa dokter, antara lain disebut menderita abses kronis dan dirujuk ke Poli Gigi. Pernah juga disayat leher dan punggungnya untuk diambil sampel.

“Tapi kondisi Pak Dadang tidak membaik, malah tambah parah sakitnya, ditambah lagi rasa sakit dari luka bekas operasi,” kata Dede Ela.

Sampai akhirnya dokter terakhir yang menangani Dadang merasa tidak sanggup lagi menemukan jenis penyakit yang diderita Dadang. Dia pun merujuk Dadang ke spesialis THT RS Dadi Keluarga, Purwokerto.

“Empat kali bolak-balik Pangandaran-Purwokerto buat cek lab, akhirnya ketemu penyakitnya, ternyata kanker nasofaring. Tempat rawat inap di RSU Dadi Keluarga, kemudian pihak rumah sakit menyarankan untuk rawat jalan sambil nunggu jadwal kemo dan penyinaran kalau kondisi Pak Dadang disajikan sudah stabil, ” jelas Dede Ela.

Persoalan dana pun menghantui Dadang. Sebab biaya penyinaran tidak ditanggung BPJS, sementara Dadang harus membayar biaya kamar kost, belum lagi untuk keperluan makan-minum sehari-hari di Purwokerto.

“Kalau pulang-pergi Pangandaran-Purwokerto, malah tambah berat di ongkos. Jadi lebih baik tinggal di kamar kost dekat rumah sakit. Bayarnya Rp800 ribu perbulan. Cuma untuk bayar kost dan makan pun sulit karena Pak Dadang praktis berhenti kerja, sementara keluarga juga bukan termasuk golongan berada, ” kata Dede Ela.

Bagi pembaca yang membaca mengulurkan bantuan, bisa menyisihkan rezekinya melalui rekening milik menantu Dadang, yaitu Bank BRI Rekening 4016-01-019201-53-9 atas nama Nur Taofiq M. Sementara nomor HP yang bisa dihubungi adalah 0821 1546 7347 (an Lina / anak) ) dan 0852 1658 6845 (an Dede Ela / kerabat). (yon)

News Feed